Time Bomb

Pelan tapi pasti, itulah bom waktu, menciptakan keheningan di awal seolah tidak ada apa-apa dan tiba-tiba ketika sudah tiba waktunya akan meledak dengan dahsyat. Entah sebesar apa ledakannya tapi pasti akan merusak, merusak orang yang menggenggamnya dan mungkin akan mengenai orang yang ada disekitarnya.

Seperti itulah yang aku rasakan di keluarga ini. Selama ini hubunganku dengan suami baik-baik saja, tapi rasanya selalu ada yang mengganjal ketika berurusan dengan keluarga suamiku. Aku selalu merasa bahwa aku tidak terlalu diterima disana. Aku merasa ada jarak yang cukup jauh, aku merasa aku selalu salah dimata mereka. Mereka hanya menanyai kabar anak dan suamiku, aku hanyalah opsi terakhir ketika sudah tidak ada bahan pembicaraan lagi.

Setiap aku tanyakan ke suamiku bagaimana sikap mereka, suamiku selalu bilang tidak bisa beruat apa-apa. Menjadikan beban semakin berat, seolah-olah aku sendirian menghadapi bom yang entah kapan akan meledak ini.

Yahh.. memang aku tidak cantik, tidak bisa masak, mungkin dimata mereka aku perempuan malas, yang untuk mengulek cabe saja aku selalu pakai blender bukan ulekkan. Resep masakan yang aku kuasai juga sangat monoton, tapi suami dan anakku tidak pernah ada masalah dengan itu. Tapi bagi mereka itu merupakan suatu bentuk kemalasan.

Mungkin orang-orang akan berpikir untuk apa memikirkan orang lain, cukup pikirkan keluarga kecilmu saja. Tapi yang membuatku tidak bisa mengacuhkan begitu saja adalah aku takut di masa yang akan datang aku harus bergantung kepada mereka dan keadaanku pastilah jadi sangat tidak menyenangkan.

Sebenarnya aku ingin suamiku bisa mencari jalan keluar tentang persoalan ini bersamaku, tapi sepertinya aku sendirian.

Like

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.